Kisah Abuleke 2

Abuleke ingin membeli ikan Tuna yang berhasil di pancing nelayan perahu kecil dengan harga delapan ratus ribu. Ikan Tuna itu sangat besar sekali. Dan tentu harganya pastilah mahal.

“Paman, saya beli ngana punya ikan Tuna ini delapan ratus ribu, bagaimana?”

“Tidak mau saya!”

“Terus paman mau jual dengan harga berapa?”

“Saya mau jual dengan harga setengah juta. Kalau ngana mau beli silahkan bawa ikannya. Tapi sebelum ngana bawa ikannya, tinggalkan ngana punya uang setengah juta. “

Abuleke tersenyum dan geleng-geleng kepala. “Setengah juta…” Batinnya.

Iklan

Kisah Abuleke I

Malam Jumat kali ini Abuleke shalat magrib di masjid. Sebelumnya Abuleke tak pernah sama sekali shalat di masjid. Selesai azan, muazin langsung qamat.

“Luruskan saf dan rapatkan barisan!” Ucap pak imam.

Dan seluruh jama’ah mengikutinya. Saf diluruskan dan barisan dirapatkan. Seorang anak kecil di samping Abuleke memperhatikan Abuleke.

“Kamu kenapa? Masih lihatin saya, pak imam sudah angkat takbir tuh…” Kata Abuleke. Tetapi anak kecil itu masih saja melihat Abuleke. Lalu ia berkata kepada Abuleke dengan pelan-pelan dan hati-hati:

“Om Abuleke, rapatkan safnya.”

“Maksudnya?”

“Ya, Om Abuleke belum rapatkan saf.”

“Lha, memangnya kenapa? Kalau saya seperti ini?”

“Kata, ustadz, nanti di tengah, antara aku dan Om Abuleke dimasukin setan. Di isi, di tempatin setan.”

“Aaaa….min….” pak imam selesai membaca surah alfatiah, dan jama’ah shalat magrib mengaminkan.

“Anak, bagus dong kalau setan mengisi saf di antara kita yang tidak rapat ini. Berarti setan ikut shalat juga?”

Abuleke kemudian angkat kedua tangannya dan mengucapkan takbir, “Allah…. akbar….”

Anak kecil di samping Abuleke setengah mati menahan tawanya.

Lilo dan Seekor Burung Nuri

Ayah Lilo baru saja pulang dari Papua, daerah kepulauan Batanta. Beliau membawa seekor burung Nuri kepala hitam. Burung Nuri ini memiliki nama latin Lorius Lory. Waktu itu Lilo tidak ada di rumah saat ayahnya tiba. Ia sedang bermain layang-layang di lapangan sepak bola, yang sebentar lagi akan di bangun sebuah bangunan pabrik. Ketika matahari tak lagi menerangi siang, Lilo pulang ke rumah. Sampai di rumah Lilo mandi lalu berangkat ke masjid untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim.

Burung Nuri yang dibawa ayahnya dari Batanta belum Lilo tahu. Lilo terburu-buru waktu itu, karena takut di marah orang tuanya. Orang tuanya biasanya memarahi anak-anaknya yang suka pulang ke rumah hampir malam. Setelah pulang dari masjid Lilo baru dikasih tahu kalau ada ole-ole buat dirinya. Lilo tersenyum bahagia dan rasa ingin tahunya memuncak tinggi. Lilo bertanya-tanya dimana ole-olenya di simpan? Ayahnya kemudian menyuruh Lilo ke dapur. Lilo seketika langsung berlari kecil menuju ruang dapur. Di dapur Lilo menemukan ibunya yang sedang memasak untuk makan malam. Lilo bertanya pada ibunya tentang ole-olenya yang dibawa ayahnya dari Batanta. Ibunya langsung menghampiri Lilo dan membawa Lilo mendekati sarang burung yang terbut dari bambu. Lilo bahagia sekali waktu melihat ada seekor burung Nuri di dalam sangkar itu. Lilo ingin memegang burung Nuri itu dengan memasukan tangannya ke dalam sarang burung. Tetapi ibunya mencegahnya. Kemudian menjelaskan kepadanya kalau burung Nuri itu belum pandai dan masih liar. Nanti dapat menggigit jari-jari Lilo. Lalu Lilo kembali lagi kepada ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu sambil merokok dan minum kopi. Lilo mengucapkan rasa terima kasih atas pemberian ayahnya. Ayahnya berkata pada anaknya, akan membuat menjinak burung Nuri itu secepat mungkin. Seperti burung-burung Nuri yang sudah pandai berbicara atau meniru-niru bahasa manusia. Burung Nuri memiliki paruh bengkok. Burung yang memiliki paruh bengkok mempunyai kecerdasan yang lebih dibanding burung-burung lainnya. Burung Nuri dapat meniru ucapan manusia karena struktur lidah burung Nuri unik.

Lilo waktu itu sudah masuk sekolah. Lilo baru duduk di bangku sekolah kelas satu. Dan sebentar lagi akan naik ke kelas dua. Ayah Lilo setiap hari melatih burung Nuri. Sedangkan Lilo terus masuk sekolah, duduk di kelas belajar berbagai macam pelajaran. Lilo selalu diberikan tugas-tugas rumah oleh guru-gurunya. Saat diperiksa kembali gurunya, tugas-tugas Lilo masih saja salah, dan hanya benar sedikit. Ayah Lilo sudah berhasil membuat jinak burung Nuri. Burung Nuri yang tadinya di pegang atau di sentuh akan menggigit, tetapi setelah di latih, burung Nuri itu tidak lagi menggigit. Lilo bisa membawa kemana-mana. Biasanya Lilo bawa pergi bermain layang-layang bersamanya. Orang-orang yang melihat burung Nurinya terkagum-kagum. Tapi belum bisa berbicara, meniru ucapan manusia.

*

            Waktu tibanya penerimaan raport. Orang tua murid di undang untuk mengambil raport anak-anak mereka di sekolah. Ayah Lilo datang dengan rapi-rapi. Ibunya tidak bisa ikut karena sakit. Setelah di umumkan juara umum satu dua tiga. Raport dibagikan kepada orang tua murid. Saat raport Lilo jatuh di tangan ayahnya. Ayahnya terkejut hebat, sebab anaknya belum bisa naik ke kelas dua. Raut wajah ayahnya berubah, yang tadinya tersenyum bahagia kini menampakan muka yang penuh dengan amarah dan kekecewaan. Selesai acara penerimaan raport. Ayah Lilo langsung pulang ke rumah. Dan menunggu Lilo pulang dari sekolah. Sudah tak sabaran ayahnya menunggu. Tiba-tiba Lilo masuk rumah dengan mengucapkan salam, lalu bersalaman dengan kedua orang tuannya. Saat Lilo ingin masuk ke kamar menggantikan pakaian seragamnya. Ayahnya meminta Lilo untuk duduk di sampingnya di ruang tamu. Ayahnya melemparkan raport anaknya itu di meja, tepat di depan Lilo. Dan mulai berceramah dan menasehati anaknya panjang-lebar. Lilo hanya bisa diam dan bersedih pilu. Tiba-tiba terdengar dari teras rumah suara burung Nuri yang memanggil-manggil namanya Lilo. Ayahnya langsung angkat bicara: “kamu ini bagaimana? Kenapa bisa sampai tidak naik kelas! Bukannya kamu sering sekali belajar. Tapi kenapa kamu tidak naik kelas? Bikin malu saja kamu ini! Kamu dengar tadi, siapa yang menyebut nama kamu? Itu burung baru beberapa bulan di rumah kita di latih sama ayah. Dan kamu sudah lama masuk sekolah. Tetapi kenapa burung lebih pandai dari pada kamu. Kamu di sekolah diajarkan apa? Malah tambah bodoh begini! Mulai sekarang kamu jangan masuk sekolah. Biar ayah yang ajari kamu di rumah. Ah! Sekolah ini bagaimana, saya titipkan anak saya dengan membayar mahal-mahal, tapi anak saya dibuat bodoh! Berhenti kamu sekolah!”

Burung Nuri belum lama di latih ayahnya Lilo di rumah. Sedangkan Lilo sudah lama masuk sekolah. Tetapi yang lebih pandai burung Nurinya dari pada Lilo yang sekolah. Apakah Lilo yang salah? Atau mungkin karena burung Nuri yang memiliki paruh bengkok sehingga cepat sekali pandai. Tetapi apa ia burung lebih pandai daripada binatang? Itukan sudah sangat keterlaluan. Siapa yang seharusnya kita salahkan? Apakah sekolah? Tetapi di sekolah yang mengajari Lilo itu bernama guru. Apakah guru salah? Atau guru yang kurang pandai? Lilo seorang siswa dan burung Nuri seekor binatang. Namun dalam kecerdasan, Lilo jauh tertinggal… Burung Nuri sudah dapat berbicara memanggil Lilo. Sedangkan Lilo sendiri. Masih belum bisa membaca dan menulis. Dan tidak naik kelas…

 

Kata Mereka, Slamet itu Gila

Siang itu kakak saya menghubungi. Katanya saya harus menggantikan tugasnya sebagai penjaga masjid. Dua minggu setelah menerima pinta kakak saya itu, saya kemudian memindahkan barang-barang saya ke masjid yang di tempati kakak saya. Di masjid al-Ikhlas jalan Taman Siswa itulah, terhitung sebulan setelah saya menjadi penjaga masjid, saya kenal dengan seseorang yang dianggap oleh masyarakat sebagai orang gila.

Pagi itu saya sedang membaca buku di teras masjid. Ada seorang lelaki yang saya dengar dari kakak saya sendiri, anak-anak TPA, dan warga sekitar masjid dianggap sebagai orang gila. Namanya Slamet. Dia masuk ke masjid dengan pakaiannya yang tidak karu-karuan, lusuh, dan berbauh tidak enak. Anehnya, setiap kali tiba waktu shalat, dia ikut shalat berjama’ah di masjid. Mulai saat itu saya memperhatikannya diam-diam.

Barangkali benar apa yang dikatakan orang-orang tentang Slamet. Dia sering berbicara sendiri. Karena satu di antara ciri-ciri orang gila adalah suka berbicara sendiri. Nah, waktu itu saya menyaksikan langsung dia berbicara sendiri di teras masjid sambil merokok. Kadang-kadang dia juga berteriak-teriak tidak jelas, meracau, dan bernyanyi. Saya hampir setiap hari bertemu dengan dia. Ada ucapan yang sering kali saya dengar dari mulutnya. Saya tidak tahu apa artinya dan maksud dari ucapannya itu. Dia sering berucap, “Assolihin….”

*

Malam hari, selesai shalat Magrib, saya mendengar ada yang mengaji. Ketika saya keluar dari kamar, saya melihat Slamet sedang mengaji. Saya kemudian mendengarkan dan mengamati baik-baik bacaan ayat suci al-Quran-nya. Sekira 10% ada benarnya yang diucapkan Slamet. Tetapi saya tidak tahu apakah yang dia baca itu merupakan hafalan, karena sering mendengar bacaan-bacaan pak imam waktu shalat atau memang dia tahu membaca al-Quran.

Suatu ketika, pas waktu Ashar, saya baru pulang dari kampus dan azan sudah di kumandangkan di masjid. Suara muazin rasanya tidak asing di telinga saya lagi. Saya masuk ke dalam masjid dan melihat siapa muazinnya. Ternyata benar, Slamet yang azan. Saya hanya menggeleng-gelengkan kepala.

“Ternyata ada juga ya, orang gila yang bisa azan.” Gumam saya dalam hati.

Saya kemudian mengambil air wudhu dan kembali masuk masjid. Slamet sudah berdiam diri bersiap-siap untuk iqomad.

Mulai hari itu saya tidak lagi berpikiran kalau Slamet itu orang gila. Sekalipun dia dianggap sebagai orang gila oleh masyarakat di sekitaran masjid, saya kira Slamet ini orang gila yang pintar. Tapi apakah ada orang gila itu pintar? Ah, saya semakin pusing saja dibuatnya.

*

Waktu itu saya pernah duduk bersama Slamet di teras masjid. Saya menawarkan rokok kepadanya. Dia bilang kepada saya, kalau dia ada rokok juga. Saya kemudian bertanya kepadanya, darimana dia mendapatkan rokok? Katanya dia beli rokok pakai uang hasil kerja, dia ikut kerja pasang tenda. Saya jadi tambah bertanya-tanya, apa mungkin ada orang gila bisa kerja? Kecurigaan saya terhadap Slamet semakin menjadi-jadi. Jangan-jangan dia tidak gila. Jangan-jangan dia hanya berpura-pura bertingkah seperti orang gila.

Ah, sudahlah! Saya tidak mau lagi berpikiran yang tidak-tidak pada Slamet. Slamet yang dianggap gila, stress, tidak waras, ternyata bisa mengumandangkan azan di masjid untuk memanggil orang-orang shalat dan mengingatkan orang-orang bahwa silahturahmi adalah wajib dilaksanakan seorang hamba dengan sering ikut shalat berjama’ah di masjid.

*

Beberapa kali banyak orang memarahi anak-anak kecil yang seringkali sesuka hati berlari-lari, tertawa, dan teriak-teriak dan bermain di masjid. Tapi Slamet melarang orang-orang yang memarahi anak-anak kecil itu. Katanya, anak-anak kecil itu kerjaannya senang bermain-main. Dimarahin juga percuma. Biarkan mereka bermain sampai menangis.

Slamet juga mengingatkan saya pentingnya tolong-menolong dan bantu membantu. Dia sering memenuhi pinta sebagian orang yang menyuruhnya untuk membeli ini dan itu di warung. Saya juga pernah meminta bantuannya untuk membersihkan masjid di hari Jumat dan mengambil air galon di rumah pak Ben. Bendahar masjid al-Ikhlas. Kini saya jadi bertanya lagi, jangan-jangan yang gila bukan Slamet, tapi orang-orang yang menganggap Slamet itu gila.